Sejarah

Sejarah dari Tim Bantuan Medis-FKUI

Our History

Sejarah TBM FKUI

dr. Allan Darwis (FKUI’86) merupakan salah satu penggagas TBM. Pada tahun 1988 dr. Allan bersama dr. Bachti Alisjahbana, Sp.PD-KPTI, Ph.D dan teman-teman lainnya memiliki ide untuk membuat wadah mahasiswa yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis dan turun bencana. Salah satu hal yang menjadi pencetusnya adalah UI menjadi tuan rumah TIG (Triennial Intervarsity Games) di tahun 1990. Sebagai mahasiswa kedokteran, dr. Allan dan kawan-kawan menyadari pentingnya tim medis untuk acara tersebut karena UI selalu meminta bantuan mahasiswa FK untuk medis.

Pada tahun 1989, pendaftaran untuk TBM dibuka dan terdapat sekitar 50 pendaftar. Semua pendaftar ini mendapatkan pendidikan dasar setiap harinya selama 2-3 minggu yang mencangkup materi kegawatdaruratan sehingga bisa menjadi Medical First Responder. Materi diberikan oleh dokter yang saat itu mengajar sesuai dengan bidang masing-masing seperti Prof. Haryono, Sp.M untuk kegawatdaruratan mata dan dr. Sunatrio, Sp. An). Selain mendapatkan materi, Prof. Haryono yang saat itu merupakan pemegang yayasan AGD 118 turut memberikan wadah pengaplikasian materi yang dipelajari.

Setelah mendapatkan materi dasar, pelantikan anggota TBM di tahun 1989 dilakukan di Gunung Putri dengan didampingi dekan pada masa itu, dr. Yovi. Anggota dilantik dengan menggunakan slayer biru dengan lambang seperti logo paramedik. Pemilihan lokasi pelantikan didasari oleh gagasan dr. Sukri yang merupakan anggota TBM dan Mapala serta preferensi anggota TBM saat itu yang senang untuk berkegiatan di alam bebas. TBM berdiri dengan posisi di bawah senat dan ketua pertama dijabat oleh dr. Dani Noor (FKUI’83). Anggota TBM menjadi sukarelawan dalam acara-acara yang diselenggarakan oleh universitas maupun pihak luar sebagai tim medis. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah menjadi tim medis untuk acara 17 Agustus yang diadakan Mapala UI setiap tahunnya.

Pada tahun 1990, dr. Allan yang menjadi ketua saat itu mengelola dan merencanakan tim medis untuk TIG. Anggota TBM ditempatkan sesuai dengan cabang yang diminati sehingga tidak bosan saat menjadi tim medis. Bantuan sebagai tim medis juga datang dari AGD 118. Pertandingan TIG tersebut berlangsung di beberapa wilayah seperti Senayan, Depok, dan wilayah Jakarta lainnya. TBM dan AGD 118 menyusun strategi, menempatkan ambulans pada beberapa titik, dan  membuat posko utama di Senayan (dekat perkampingan atlit) yang berfungsi pula sebagai pemberi bantuan. Saat itu, TBM dibimbing oleh Prof. Haryono.

Our History

Sejarah TBM FKUI

Masa Sebelum Peresmian

Sebelum resmi berdiri, TBM FKUI sudah ada setidaknya sejak tahun 1988. Pada waktu itu organisasi ini masih belum terstruktur, tersusun dari orang-orang yang suka jalan-jalan dan bepergian, serta memilki anggota paling senior FKUI angkatan 1983. Pada waktu itu, belum banyak yang ikut bergabung karena kegiatan perkuliahan kedokteran yang menyibukkan bagi sebagian orang. Kegiatan TBM FKUI sebagai suatu perkumpulan dimulai dari Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (MAPALA UI) yang membutuhkan tim medis untuk upacara 17 Agustus di puncak Gunung Gede-Pangrango, Bogor. Selain itu TBM FKUI juga berfokus sebagai responder kegawatdaruratan, seperti turun bencana dan banjir, karena pada awalnya banyak anggota yang sudah tahap klinik. Kegiatan lainnya seperti sunatan massal juga mulai dilakukan oleh TBM FKUI karena fakultas tidak banyak memberikan perhatian pada kompetensi ini, sementara kompetensi ini diujiankan pada tahap klinik tingkat 4-5. Tugas sebagai tim medis juga dilakukan dengan permintaan tim medis yang didapat dari teman-teman yang ikut dalam kegiatan olahraga seperti basket dan kejuaraan-kejuaraan SMA lainnya.

Upacara 17 Agustus di Gunung Gede

Pelaksanaan Upacara 17 Agustus rutin dilakukan oleh TBM FKUI. Pertama kali pada tahun 1989, yaitu saat Ali Sungkar (FKUI 1985) berada di tingkat 4, bersama teman-temanya Anton Oktavianto (FKUI 1984) dan Iwan (FKUI 1983). TBM FKUI pada waktu itu berangkat pada tanggal 16 Agustus setelah selesai kuliah, dan menuju Cibodas pada pukul 10 malam. Setelah sampai di Cibodas, peserta upacara ditargetkan untuk mendapatkan slayer biru di Puncak Gunung Gede. Tim medis dan MAPALA UI sampai di Surya Kencana pada waktu subuh, kemudian ikut melakukan upacara pukul 10 Pagi, lalu inaugurasi pukul 12 siang. Untuk upacara ini, anggota TBM FKUI menyiapkan sendiri obat-obatan dan menyewa transport untuk pulang dan perginya.

Kegiatan inaugurasi 17 Agustus ini juga diteruskan oleh angkatan berikut-berikutnya. Beberapa pengurus pada waktu itu juga merupakan anggota dari MAPALA UI, seperti Kanadi Sumapradja dan Marly Susanti.

Pengalaman pertama TBM FKUI mengikuti kejuaraan adalah di Unisula Semarang mengenai Emergency yang diselenggarakan oleh AGD 118 dengan tema kegawatdaruratan lalu lintas. Namun, pada saat itu TBM FKUI belum berhasil mendapatkan piala karena kurang pengalaman dan dirasa masih perlu pengembangan.

Kegiatan-kegiatan ini terus berlangsung sampai beberapa tahun setelahnya. Pada waktu itu TBM FKUI sempat memiliki masa tidak aktif untuk beberapa tahun karena peminatnya semakin berkurang.

Our History

Sejarah TBM FKUI

TBM FKUI Sebagai Organisasi Yang Terstruktur

Setelah terpilihnya ketua Senat Mahasiswa FKUI (sekarang BEM IKM FKUI) yang baru pada saat itu, Kanadi Sumapradja, dan teman-teman sejawatnya diminta untuk membangkitkan TBM dengan lambang Ular, Kedokteran dan Peta. Terdapat lima orang yang membangun TBM yaitu, Kanadi Sumapradja, Aria Wibawa, Marly Susanti, Tyas Priyatini, dan satu orang yang tidak tercatat. Pada saat itu mulai dibuatnya proposal Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD ART) TBM FKUI dan kantor TBM yang berada di ruang Senat Mahasiswa FKUI lantai dasar.

Perekrutan dimulai pada pertengahan tahun 1996, dimulai untuk angkatan tahun 1995 dan 1996 karena banyak yang tertarik juga untuk bergabung dengan TBM FKUI yang dimulai dari minta untuk belajar lebih mengenai P3K, kegiatan-kegiatan MAPALA dalam Diklatsar, dan sunatan hingga meluas sampai bagaimana menjadi penolong saat kebakaran atau menolong orang hilang. Pada saat itu ketidakadaan senioritas, dimana tingkat 1 sampai tingkat 6 sangat dekat relasinya menjadi salah satu faktor ketertarikan di TBM FKUI sendiri.

Peresmian TBM FKUI sebagai Organisasi Kemahasiswaan FKUI

Peresmian TBM FKUI diikuti dengan pelantikan anggotanya. Pada waktu itu anggota TBM FKUI sudah ada hingga angkatan tertua di masa klinik dengan anggota-anggota yang lebih muda yaitu angkatan 1995 dan 1996. Peresmian organisasi ini secara resmi dilakukan dengan mengajukan surat ke wakil dekan tiga dan diresmikan di Musyawarah Besar Mahasiswa (MUBESMA) yang diikuti seluruh angkatan di FKUI.

Secara simbolis keanggotaan TBM FKUI ditegakkan dari upacara pelantikan. Persiapan pelantikan ini dimulai 2-3 bulan oleh seluruh anggota TBM FKUI mulai dari angkatan tertua hingga angkatan 1995 dan 1996. Persiapan seperti latihan fisik berupa lari bersama setiap minggu, lari naik turun tangga dari lantai 4 di salemba, dan belajar materi medis.

Pelantikan pertama terdiri dari tes ilmu kegawatdaruratan medis, rappling, dan menaiki suatu gunung di Jawa Barat. Tes ini hanya untuk anggota-anggota muda TBM FKUI, sementara anggota-anggota yang sudah lebih senior dilantik secara langsung tanpa seleksi.

Our History

Sejarah TBM FKUI

TBM FKUI setelah Diresmikan

Sebagai organisasi yang baru berdiri secara resmi, dibuatlah struktur kepemimpinan pertama kali berupa presidium yang dipimpin oleh tiga orang, yaitu Mayang Sari (FKUI 1991), Arianto Bono Aji (FKUI 1991), dan Dwi Oktavia T.L Handayani (FKUI 1991). Pada awal kepengurusan, seluruh anggota terbagi menjadi 3 bidang, yaitu kesehatan olahraga, bencana alam, dan satu bidang yang belum diketahui.

Setelah itu kepengurusan diserahkan kepada Fachrisal (FKUI 1993). Pada tahun 1996-1999 dibuatlah AD/ART dengan organisasi kemahasiswaan TBM FKUI yang telah resmi berdiri. Pada kepengurusan tersebut bidang diubah menjadi 4 yaitu pendidikan dan pelatihan (diklat), tim reaksi cepat, logistik dan penelitian dan pengembangan (litbang). Pada tahun 1995, bendera TBM dibuat oleh Wisnu Setiawan.

Pelatihan TBM FKUI banyak dilakukan di alam bebas; seperti rappling, penggunaan kompas dan lainnya, karena berhubungan dekat dengan MAPALA UI. Salah satu kegiatan yang paling berat yang pernah TBM FKUI ikuti adalah menyusuri pantai selatan dari ujung ke ujung selama tiga hari bersama tim geografi, dengan TBM FKUI menyapu dari belakang anggota tim yang juga berisikan siswa tingkat SMA.

Hubungan yang cukup erat antara TBM FKUI dan MAPALA UI mempengaruhi kegiatan TBM FKUI menjadi lebih banyak di alam. Kegiatan seperti pelantikan dan Team-building rutin dilakukan di alam bebas. Seleksi anggota dari tingkatan Anggota Muda (AngMud) ke Anggota Inti (AngTi) juga dilakukan dengan outbound.

Peran TBM FKUI Dalam Peristiwa Bersejarah

Tahun 1996-1998, TBM FKUI tidak banyak turun bencana, melainkan banyak menjadi relawan medis. Salah satunya saat Peristiwa Demo Kerusuhan Trisakti atau yang lebih dikenal sebagai Tragedi Trisakti.Pada era Reformasi, beberapa anggota TBM FKUI pernah menjadi tim medis pada kerusuhan DPR 1998.

Pada waktu gempa dan tsunami Aceh tahun 2004, TBM FKUI menjadi salah satu perwakilan yang membantu dalam bencana tersebut dan merupakan Tim pertama yang sampai di Aceh.

Tokoh :

dr. Ali Sungkar,SpOG(K)
dr. Anton Oktavianto, SpM
dr. Iwan
dr.Kanadi Sumapradja,SpOG(K)
dr. Marly Susanti, SpOG-KFER
dr. Aria Wibawa, SpOG(K)
dr. Tyas Priyatini, SpOG(K)
dr.Mayang Sari
dr.Arianto Bono Aji, Sp-BTKV
dr.Dwi Oktavia T.L Handayani, M.Epid
dr.Fachrisal Ipang, SpOT(K)-SPINE
dr. Wisnu Setiawan, SpOG