Cedera karena OLAHRAGA, gimana ya?

Cedera ketika berolahraga merupakan kejadian yang tak jarang terjadi di masyarakat dari berbagai kalangan, entah itu pada atlet yang sedang berjuang mengharumkan nama bangsa, atau bahkan pada sekumpulan anak kecil yang sedang main bola di kampung halaman.

Cedera olahraga ini tak boleh dibiarkan begitu saja atau pun ditangani dengan tidak tepat. Hal ini dapat bertambah parah…! Nah, pada artikel ini, akan kita kupas bersama mengenai beberapa hal terkait cara penanganan cedera pada jaringan lunak tubuh kita yang umum terjadi, mari kita simak!

Jadiiii, cedera yang dapat terjadi pada saat kita berolahraga adalah berupa : SPRAIN dan STRAIN.

Apa itu sprain dan strain?

SPRAIN adalah cedera yang terjadi di ligamen kita. Cedera pada ligamen ini bisa disebabkan oleh puntiran atau penarikan ketika kita sedang bermain sepakbola contohnya.

Sedangkan STRAIN adalah cedera pada otot atau tendon (gelendong otot) akibat puntiran dan penarikan.

Gejala-gejala yang dapat timbul ketika kita mengalami sprain dan juga strain adalah timbulnya rasa sakit, panas, perubahan warna menjadi kemerahan, pembengkakan, dan hilangnya fungsi pada daerah sekitar yang cedera.

Gimana ya tatalaksana sprain dan strain?

Hal yang harus dipastikan dan selalu diingat ketika mengalami sprain dan strain adalah,

  • JANGAN dipijat
  • JANGAN berlari atau beraktivitas fisik berat lainnya
  • JANGAN meminum alkohol dan
  • JANGAN dipanaskan karena keempat hal tersebut hanya akan memperparah cedera.

Pertolongan pertama yang dapat dilakukan pada pasien yang mengalami sprain dan strain adalah dengan teknik P.R.I.C.E.

  • P adalah Proteksi. Proteksi pada bagian yang cedera dapat diberikan dengan menggunakan protector seperti pada gambar agar otot terlindungi dari cedera yang lebih lanjut.
  • R adalah Rest. Jangan gunakan aktivitas berlebih pada bagian yang cedera untuk mempercepat proses penyembuhan.
  • adalah Ice. Memberikan ice pack yang diselipkan pada balutan pertama atau kedua. Ice pack ditempel 8 kali per hari selama 15-20 menit tiap 3 jam. Ice pack disarankan tidak berkontak langsung dengan kulit karena dapat menyebabkan iritasi. Pemberian ice pack ini berguna agar pembuluh darah mengalami vasokonstriksi sehingga membatasi pembengkakan dan juga menghilangkan nyeri sementara
  • adalah Compression. Melakukan kompresi pada daerah cedera untuk membatasi bengkak. Kompresi dilakukan dari arah distal ke proksimal dengan tidak terlalu ketat. Sebelum dan sesudah kompresi, wajib periksa pulsasi, motoric, dan sensorik korban.
  • E adalah Elevation. Angkat atau elevasi bagian tubuh yang cedera melebihi tinggi jantung guna mengurangi aliran darah yang melaju menuju daerah cedera.

Begitulah tatalaksana yang dapat kita lakukan terhadap korban cedera olahraga berupa sprain dan strain. Namun, ingat kata pepatah, mencegah lebih baik daripada mengobati.

Upaya pencegahan cedera olahraga.

Terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah sprain dan strain terjadi, yaitu dengan :

  1. Melakukan pemanasan/ warmup sebelum aktivitas fisik olahraga
  2. Melakukan peregangan/stretch setelah berolahraga
  3. Menggunakan sepatu yang mendukung dan sesuai ukuran/fit well ketika berolahraga
  4. Apabila pernah mengalami cedera sebelumnya, gunakan muscle brace

 

Referensi

  1. Van den Bakerom MPJ, Strujis PAA, Blankevoort L, Welling L, van Dijk CN, Kerkhoffs GMMJ. What is the evidence for rest, ice, compression, and elevation therapy in the treatment of ankle sprins in adults? Netherlands : Academic Medical Center; 2012.
  2. Kerkhoffs GM, et al. Diagnosis, treatment, and prevention of ankle sprains : an evidence-based clinical guideline. 2011 Apr 20.
  3. What are sprains and strains? National Institutes of Health and Musculoskeletal and Skin Diseases. 2014 Nov[cited 2018 Nov 12]. Available from : https://www.niams.nih.gov/sites/default/files/catalog/fules/sprains_and_strains_ff/pdf

 

Penulis : Pramesti Kusumadini Wibowo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *