Sejarah Tim Bantuan Medis Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia


Editor : Wilson Bastian
Kontributor : Dorothy, Sylvie, Maurin, Edelyne, Wilson, Nadira, Alesia, Nirmala
Narasumber : dr. Kanadi Sumapradja, SpOG(K), M.Sc, dr. Ali Sungkar, SpOG-KFM, dr. Ponco Birowo, SpU(K), Ph.D, dr. Wisnu Setiawan, SpOG, dr. Prasetyanugraheni Kreshanti, SpBP-RE(KKF), dr. Yuni Anisa, SpPD, dr. Bona Akhmad Fithrah, SpAn


Tim Bantuan Medis Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (TBM FKUI) adalah organisasi kemahasiswaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis dan medis praktis. TBM FKUI merupakan salah satu badan kemahasiswaan BEM IKM FKUI dan sejak tahun 2014 bersekretariat di Rumpun Ilmu Kesehatan, Universitas Indonesia, Depok. TBM FKUI resmi berdiri pada tanggal 15 Desember 1996.

Masa Sebelum Peresmian

Sebelum resmi berdiri, TBM FKUI sudah ada setidaknya sejak tahun 1988. Pada waktu itu organisasi ini masih belum terstruktur, tersusun dari orang-orang yang suka jalan-jalan dan bepergian, serta memilki anggota paling senior FKUI angkatan 1983. Pada waktu itu, belum banyak yang ikut bergabung karena kegiatan perkuliahan kedokteran yang menyibukkan bagi sebagian orang. Kegiatan TBM FKUI sebagai suatu perkumpulan dimulai dari Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (MAPALA UI) yang membutuhkan tim medis untuk upacara 17 Agustus di puncak Gunung Gede-Pangrango, Bogor. Selain itu TBM FKUI juga berfokus sebagai responder kegawatdaruratan, seperti turun bencana dan banjir, karena pada awalnya banyak anggota yang sudah tahap klinik. Kegiatan lainnya seperti sunatan massal juga mulai dilakukan oleh TBM FKUI karena fakultas tidak banyak memberikan perhatian pada kompetensi ini, sementara kompetensi ini diujiankan pada tahap klinik tingkat 4-5. Tugas sebagai tim medis juga dilakukan dengan permintaan tim medis yang didapat dari teman-teman yang ikut dalam kegiatan olahraga seperti basket dan kejuaraan-kejuaraan SMA lainnya.

Upacara 17 Agustus di Gunung Gede

Pelaksanaan Upacara 17 Agustus rutin dilakukan oleh TBM FKUI. Pertama kali pada tahun 1989, yaitu saat Ali Sungkar (FKUI 1985) berada di tingkat 4, bersama teman-temanya Anton Oktavianto (FKUI 1984) dan Iwan (FKUI 1983). TBM FKUI pada waktu itu berangkat pada tanggal 16 Agustus setelah selesai kuliah, dan menuju Cibodas pada pukul 10 malam. Setelah sampai di Cibodas, peserta upacara ditargetkan untuk mendapatkan slayer biru di Puncak Gunung Gede. Tim medis dan MAPALA UI sampai di Surya Kencana pada waktu subuh, kemudian ikut melakukan upacara pukul 10 Pagi, lalu inaugurasi pukul 12 siang. Untuk upacara ini, anggota TBM FKUI menyiapkan sendiri obat-obatan dan menyewa transport untuk pulang dan perginya.

Kegiatan inaugurasi 17 Agustus ini juga diteruskan oleh angkatan berikut-berikutnya. Beberapa pengurus pada waktu itu juga merupakan anggota dari MAPALA UI, seperti Kanadi Sumapradja dan Marly Susanti.

Pengalaman pertama TBM FKUI mengikuti kejuaraan adalah di Unisula Semarang mengenai Emergency yang diselenggarakan oleh AGD 118 dengan tema kegawatdaruratan lalu lintas. Namun, pada saat itu TBM FKUI belum berhasil mendapatkan piala karena kurang pengalaman dan dirasa masih perlu pengembangan.

Kegiatan-kegiatan ini terus berlangsung sampai beberapa tahun setelahnya. Pada waktu itu TBM FKUI sempat memiliki masa tidak aktif untuk beberapa tahun karena peminatnya semakin berkurang.

TBM FKUI Sebagai Organisasi Yang Terstruktur

Setelah terpilihnya ketua Senat Mahasiswa FKUI (sekarang BEM IKM FKUI) yang baru pada saat itu, Kanadi Sumapradja, dan teman-teman sejawatnya diminta untuk membangkitkan TBM dengan lambang Ular, Kedokteran dan Peta. Terdapat lima orang yang membangun TBM yaitu, Kanadi Sumapradja, Aria Wibawa, Marly Susanti, Tyas Priyatini, dan satu orang yang tidak tercatat. Pada saat itu mulai dibuatnya proposal Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD ART) TBM FKUI dan kantor TBM yang berada di ruang Senat Mahasiswa FKUI lantai dasar.

Perekrutan dimulai pada pertengahan tahun 1996, dimulai untuk angkatan tahun 1995 dan 1996 karena banyak yang tertarik juga untuk bergabung dengan TBM FKUI yang dimulai dari minta untuk belajar lebih mengenai P3K, kegiatan-kegiatan MAPALA dalam Diklatsar, dan sunatan hingga meluas sampai bagaimana menjadi penolong saat kebakaran atau menolong orang hilang. Pada saat itu ketidakadaan senioritas, dimana tingkat 1 sampai tingkat 6 sangat dekat relasinya menjadi salah satu faktor ketertarikan di TBM FKUI sendiri.

Peresmian TBM FKUI sebagai Organisasi Kemahasiswaan FKUI

Peresmian TBM FKUI diikuti dengan pelantikan anggotanya. Pada waktu itu anggota TBM FKUI sudah ada hingga angkatan tertua di masa klinik dengan anggota-anggota yang lebih muda yaitu angkatan 1995 dan 1996. Peresmian organisasi ini secara resmi dilakukan dengan mengajukan surat ke wakil dekan tiga dan diresmikan di Musyawarah Besar Mahasiswa (MUBESMA) yang diikuti seluruh angkatan di FKUI.

Secara simbolis keanggotaan TBM FKUI ditegakkan dari upacara pelantikan. Persiapan pelantikan ini dimulai 2-3 bulan oleh seluruh anggota TBM FKUI mulai dari angkatan tertua hingga angkatan 1995 dan 1996. Persiapan seperti latihan fisik berupa lari bersama setiap minggu, lari naik turun tangga dari lantai 4 di salemba, dan belajar materi medis.

Pelantikan pertama terdiri dari tes ilmu kegawatdaruratan medis, rappling, dan menaiki suatu gunung di Jawa Barat. Tes ini hanya untuk anggota-anggota muda TBM FKUI, sementara anggota-anggota yang sudah lebih senior dilantik secara langsung tanpa seleksi.

TBM FKUI setelah Diresmikan

Sebagai organisasi yang baru berdiri secara resmi, dibuatlah struktur kepemimpinan pertama kali berupa presidium yang dipimpin oleh tiga orang, yaitu Mayang Sari (FKUI 1991), Arianto Bono Aji (FKUI 1991), dan Dwi Oktavia T.L Handayani (FKUI 1991). Pada awal kepengurusan, seluruh anggota terbagi menjadi 3 bidang, yaitu kesehatan olahraga, bencana alam, dan satu bidang yang belum diketahui.

Setelah itu kepengurusan diserahkan kepada Fachrisal (FKUI 1993). Pada tahun 1996-1999 dibuatlah AD/ART dengan organisasi kemahasiswaan TBM FKUI yang telah resmi berdiri. Pada kepengurusan tersebut bidang diubah menjadi 4 yaitu pendidikan dan pelatihan (diklat), tim reaksi cepat, logistik dan penelitian dan pengembangan (litbang). Pada tahun 1995, bendera TBM dibuat oleh Wisnu Setiawan.

Pelatihan TBM FKUI banyak dilakukan di alam bebas; seperti rappling, penggunaan kompas dan lainnya, karena berhubungan dekat dengan MAPALA UI. Salah satu kegiatan yang paling berat yang pernah TBM FKUI ikuti adalah menyusuri pantai selatan dari ujung ke ujung selama tiga hari bersama tim geografi, dengan TBM FKUI menyapu dari belakang anggota tim yang juga berisikan siswa tingkat SMA.

Hubungan yang cukup erat antara TBM FKUI dan MAPALA UI mempengaruhi kegiatan TBM FKUI menjadi lebih banyak di alam. Kegiatan seperti pelantikan dan Team-building rutin dilakukan di alam bebas. Seleksi anggota dari tingkatan Anggota Muda (AngMud) ke Anggota Inti (AngTi) juga dilakukan dengan outbound.

Peran TBM FKUI Dalam Peristiwa Bersejarah

Tahun 1996-1998, TBM FKUI tidak banyak turun bencana, melainkan banyak menjadi relawan medis. Salah satunya saat Peristiwa Demo Kerusuhan Trisakti atau yang lebih dikenal sebagai Tragedi Trisakti.

Pada era Reformasi, beberapa anggota TBM FKUI pernah menjadi tim medis pada kerusuhan DPR 1998.

Pada waktu gempa dan tsunami Aceh tahun 2004, TBM FKUI menjadi salah satu perwakilan yang membantu dalam bencana tersebut dan merupakan Tim pertama yang sampai di Aceh.

 

Tokoh :

•dr. Ali Sungkar,SpOG(K)
• dr. Anton Oktavianto, SpM
• dr. Iwan
• dr.Kanadi Sumapradja,SpOG(K)
• dr. Marly Susanti, SpOG-KFER
• dr. Aria Wibawa, SpOG(K)
• dr. Tyas Priyatini, SpOG(K)
• dr.Mayang Sari
• dr.Arianto Bono Aji, Sp-BTKV
• dr.Dwi Oktavia T.L Handayani, M.Epid
• dr.Fachrisal Ipang, SpOT(K)-SPINE
• dr. Wisnu Setiawan, SpOG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *