Terbentur di kepala? Eits, jangan disepelekan!

oleh: Anasya Diandra Atmadikoesoemah

 

Gubrak…!!!

“eh ada apaan tuh?!”

“wah ada mobil nabrak tiang listrik! Kok penumpang di kursi belakang pingsan?!”

“ah pingsan aja gak sampe berdarah-darah kok…”

Kejadian di atas hanyalah skenario fiktif belaka, tapi bagaimana jika hal tersebut terjadi di depan mata kita? Benarkah cedera kepala tanpa disertai pendarahan tidak berbahaya?

Eh, jangan salah, cedera kepala walau tanpa disertai pendarahan ternyata dapat menyebabkan gegar otak, yang dalam bahasa Inggrisnya disebut concussion.

Gambar 1. Concussion

Apa itu concussion?

Conccussion adalah cedera pada otak yang dapat diakibatkan oleh benturan keras. Jika tidak ditangani dengan serius, komplikasi seperti koma, kematian jaringan otak, tekanan intrakranial yang tinggi, infeksi, dan kerusakan pada pembuluh darah dan saraf dapat terjadi. Oleh karena itu, kenali tanda-tanda concussion seperti:

  • kehilangan kesadaran
  • amnesia (kehilangan ingatan akan kejadian sebelum concussion terjadi)
  • kejang
  • retak pada tengkorak, ditandai dengan lebam di sekitar mata, mimisan, tengkorak yang masuk ke dalam, tertancap benda di kepala
  • muntah
  • perubahan perilaku
  • benturan terjadi sangat kencang seperti jatuh dari ketinggian 3 meter atau pada tabrakan sepeda motor

Tanda-tanda yang seringkali terlewatkan meliputi:

  • tatapan kosong/terlihat linglung
  • respons terhadap rangsang lambat. Contoh: tidak bisa langsung mengikuti perintah
  • berbicara melantur

Gambar 2. Tanda-tanda concussion

Berdasarkan tingkat keparahannya, concussion dibagi menjadi tiga grade yaitu:

  • Grade 1: terlihat bingung sesaat, tidak disertai pingsan/kehilangan kesadaran, tanda-tanda concussion kurang dari 15 menit.
  • Grade 2: terlihat bingung sesaat, tidak disertai pingsan, tetapi tanda-tanda concussion lebih dari 15 menit
  • Grade 3: disertai pingsan/kehilangan kesadaran

 

Lalu, apa yang dapat dilakukan oleh orang awam ketika melihat ada korban dengan cedera kepala?

  • Lakukan 3A: Amankan diri, Amankan korban, Amankan lingkungan.
  • Periksa denyut nadi, jika tidak teraba denyut nadi, segera lakukan kompresi dada (100-120x/menit) jika penolong mampu.
  • Jika memungkinkan, stabilisasi korban dengan cara memasang bidai, utamakan di daerah kepala (neck collar). Jika tidak ada bidai, dapat menggunakan benda keras untuk memfiksasi kepala korban.
  • Hubungi paramedik dan ambulans (AGD Dinas Kesehatan DKI 021-65303118)
  • Transport ke rumah sakit dengan mempertahankan fiksasi pada leher dan kepala

Gambar 3. Neck collar untuk fiksasi kepala

Concussion dapat dicegah dengan perilaku preventif seperti selalu menggunakan alat pelindung diri seperti safety belt saat di mobil, helm berstandar saat mengendarai sepeda motor, atau mouthguards saat berolahraga

Gambar 4. Helm berstandar SNI

Gegar otak atau concussion atau gegar otak dapat terjadi akibat benturan hebat di kepala, oleh karena itu, kenali tanda-tandanya dan ketahui tatalaksananya untuk mencegah komplikasi pada korban.

 

Sumber:

  1. Davis T, Ings A. Head injury: triage, assessment, investigation and early management of head injury in children, young people and adults (NICE guideline CG 176). Archives of disease in childhood – Education & practice edition. 2014;100(2):97-100.
  2. Patlak M, Joy J. Is soccer bad for children’s heads?. Washington, D.C.: National Academy Press; 2002.
  3. Graham R, Rivara FP, Ford MA, et al. Sports-Related Concussions in Youth: Improving the Science, Changing the Culture. Washington (DC): National Academies Press; 2014.
  4. Snell R. Clinical anatomy by regions. 9th ed. Baltimore, MD: Lippincott Williams & Wilkins; 2012.
  5. Ambulans Gawat Darurat DKI JAKARTA [Internet]. Agddinkes.jakarta.go.id. 2016 [cited 22 November 2017]. Available from: https://agddinkes.jakarta.go.id/welcome/detail_news/25

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *