Kutuan: Kok Bisa Sih?

Oleh: Joshua Eldad Frederich

“Eh, kok ada yang gerak-gerak sih di rambut lu? Apaan tuh?” tanya A.

“Gataunih, kepala gue rasanya gatel banget,” jawab B.

“IHHHH, lu kutuan ya???” tanya A keras-keras hingga satu kelas mendengar.

Alhasil, tidak ada yang mau berteman dengan B.

Hmmm, gamau kan ya ada di posisi B? Gimana ya cara menangani kutuan?

Pertanyaan yang bagus sekali, tapi sebelum kita pergi ke bagian tatalaksana, kita harus mengetahui terlebih dahulu mengenai kutuan. Kutuan, atau yang secara medis disebut sebagai pediculosis, merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan adanya serangga-serangga kecil (kutu) yang hidup di daerah kulit manusia, terutama daerah berambut. Kutu juga seringkali dijumpai pada anak-anak.

Pediculosis bisa terjadi di daerah rambut kepala, perut, ataupun di daerah kemaluan. Pada hari ini, kita akan mengenal lebih jauh mengenai pediculosis yang terjadi di daerah rambut kepala. Kutuan pada rambut kepala disebabkan oleh suatu spesies serangga yang disebut sebagai Pediculosis capitis. Kutu dapat mencapai ukuran 2 sampai 3 milimeter saat dewasa dan biasanya berwarna abu-abu.

Gambar 1. Pediculosis capitis si penyebab kutuan

Kutu betina akan menghasilkan sekitar 10 telur setiap harinya. Telur-telur ini ditempelkan pada rambut manusia dan akan menetas setelah 14 hari. Biasanya, bagian yang terlihat pada orang yang terkena kutuan adalah telur-telur yang masih menempel di rambut.

Gambar 2. Telur-telur yang menempel di rambut

Selain adanya telur-telur pada rambut, tanda lain seseorang mengalami kutuan adalah rasa gatal pada area rambut. Kutu akan menyuntikkan ‘ludah’ mereka dan menghisap darah dari kulit kepala. Hal ini dapat menyebabkan rasa gatal pada daerah yang tergigit tersebut.

Kutu bisa nular ga ya?

Jawaban singkatnya: bisa. Namun, penyebaran dari satu individu ke individu lainnya dibutuhkan kontak langsung antara rambut ke rambut. Perlu diketahui bahwa kutu tidak bisa lompat ataupun terbang sehingga mereka sulit untuk menular apabila tidak kontak langsung. Bahkan, beberapa riset menyimpulkan bahwa penggunaan bantal yang sama dengan orang kutuan tidak menimbulkan risiko penularan yang signifikan.

Terus, kalo udah kutuan, harus ngapain?

Kalau sudah terkena infestasi kutu, sebaiknya Anda pergi ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dan juga pemberian obat. Namun, jika tidak memungkinkan, pengobatan sendiri di rumah dapat dilakukan dengan pemberian minyak zaitun, gel rambut, ataupun petroleum jelly dan dibiarkan semalaman. Pelapisan rambut dan kulit oleh bahan-bahan tersebut dapat menyulitkan pernapasan kutu dan menyebabkan kutu mati. Perlu diingat bahwa obat-obatan yang diberikan dokter jauh lebih berkhasiat dibandingkan pengobatan sendiri di rumah.

Nah, sekarang udah tau kan apa kutu itu?

Jadi, sebagai kesimpulan, kutu merupakan serangga Pediculosis capitis yang tinggal di kulit rambut manusia. Serangga ini bisa menyebabkan rasa gatal dan juga ditandai dengan adanya telur yang menempel di rambut. Kutu bisa menular melalui kontak langsung antarrambut dan apabila tertular, lebih baik pergi ke dokter agar diberikan obat yang sesuai.

 


 

Referensi:

  1. Head lice infestations: a clinical update. Paediatr Child Health. 2004 Nov; 9(9): 647–651.
  2. Frankowski BL, Weiner LB. Head lice. Pediatrics. 2002 Sep 3; 110(3): 638—643.
  3. Verma P, Namdeo C. Treatment of pediculosis capitis. Indian J Dermatol. 2015 Jun; 60(3): 238—247.
  4. Mumcuoglu KY. Prevention and treatment of head lice in children. Paediatr Drugs. 1999 Sep; 1(3):211—218.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *