Cedera Saat Olahraga? Jangan Diberi Balsem dan Jangan Diurut!

Ditulis oleh: Wilson Bastian

Pernah terjatuh dan tak bisa bangkit lagi? Bukan karena galau tapi karena terkilir atau salah berpijak dalam melakukan olahraga tertentu seperti futsal, lari atau olahraga lainnya? Kemudian terasa semakin nyeri dan membengkak setelah beberapa jam. Apakah kamu tahu bahwa penanganan awalnya sebenarnya mudah? Sebelum membahas itu mari kita pahami dulu sedikit ilmu mengenai cedera olahraga.

Cedera olahraga dapat terjadi pada siapa saja dan dalam olahraga apa saja pada tingkatan yang berbeda. Setiap jenis olahraga memiliki mekanisme pergerakan yang berbeda sehingga mempengaruhi sistem tulang dan otot yang berbeda. Kecenderungan “ankle” pada pelari dan pemain badminton akan berbeda secara anatomis walaupun sama-sama umumnya disebut “ankle”. Pada umumnya cedera terjadi jika beban olahraga yang dilakukan jauh melebihi kemampuan diri kita, kurangnya pemanasan sehingga tubuh “tidak siap” untuk melakukan tingkat aktivitas yang langsung tinggi, atau kejadian lainnya saat sedang berolahraga. Jenis dan tingkat latihan cukup yang rutin dapat membantu mengurangi risiko cedera pada olahraga yang kalian lakukan.

Bagian yang cedera bisa terjadi pada jaringan keras seperti fraktur (patah tulang) atau dislokasi (lepasnya tulang dari sendi secara keseluruhan) yang memerlukan tatalaksana segera dan rujukan ke rumah sakit. Paling mudah kita ketahui jika setelah kejadian cedera, terdapat kelainan bentuk jika dibandingkan dengan tangan atau kaki sebelahnya dari yang cedera. Cedera lebih sering ditemui pada kulit, otot, tendon (jaringan penyambung otot dengan tulang) atau ligamen (jaringan penyambung antar tulang). Cedera pada jaringan lunak ini lebih mudah untuk ditangani namun tetap perlu ke rumah sakit untuk mendapatkan hasil penyembuhan yang maksimal.

Strain adalah cedera pada oToT atau Tendon, Sprain adalah cedera pada ligament. Sprain dan Strain memiliki derajat keparahannya masing-masing, mulai dari gejala nyeri dan nyeri tekan hingga disertai “kelonggaran” sendi atau robeknya jaringan yang Sprain atau Strain tersebut. Sebagai contoh mari lihat gambar dibawah berikut.

Gambar. Ligamen vs otot

Pada tahap awal Sprain atau Strain akan terasa nyeri pada bagian yang cedera dan bertambah nyeri jika ditekan. Kemudian akan timbul reaksi inflamasi lebih yang menyebabkan pembengkakan dan nyeri yang lebih hebat, namun sebenarnya merupakan proses penyembuhan luka. Pada derajat Sprain yang lebih lanjut sendi akan terasa lebih longgar atau bahkan tidak stabil. Pada Strain, karena yang terkena adalah otot atau tendon, bagian yang cedera akan nyeri dan sulit digerakkan, bagian kulit cedera menjadi memar dan terjadi pembengkakan karena inflamasi. Strain dan Sprain berbeda dengan kram otot, dimana pada kram otot terjadi kontraksi otot terus menerus karena penggunaan yang berlebihan. Kram otot biasanya hanya nyeri pada bagian otot yang kram dan kaku otot.

Penanganan cedera olahraga pada Strain atau Sprain pada intinya adalah mengurangi reaksi inflamasi (penyembuhan luka) yang menyebabakan nyeri dan pembengkakan yang hebat. Penanganannya hanya membutuhkan empat langkah mudah yang disingkat RICE yaitu Rest, Ice, Compression, dan Elevation.
Rest berarti mengistirahatkan bagian yang cedera selama 2-3 hari ehingga menurunkan beban aktivitas dan reaksi inflamasi serta mempercepat proses penyembuhan.
Ice berarti mendinginkan daerah yang cedera dengan es, karena menurunkan suhu pada bagian cedera dapat menurunkan inflamasi, membuat aliran pembuluh darah ke bagian tersebut berkurang, membatasi pembengkakan dan mengurangi nyeri karena menahan fungsi saraf nyeri. Caranya dengan membungkus pecahan es batu dalam handuk atau plastik (jangan paparkan es langsung ke kulit) dan tempelkan pada bagian yang cedera selama 15-20 menit, tiap 3 jam selama 1-2 hari.
Compression berarti menekan bagian yang luka sehingga menghentikan pendarahan dalam dan mengurangi pembengkakan serta membatasi pergerakan bagian yang cedera. Kompresi dapat digunakan dengan elastic bandage atau kain panjang yang dapat membalut kuat bagian yang cedera. Kompresi dapat dikombinasikan dengan pemasangan es
Elevation berarti mengangkat bagian yang cedera lebih tinggi dari ketinggian jantung diatas tanah sehingga aliran darah ke daerah cedera berkurang dan inflamasi berkurang. Jadi terus berbaring dengan mengangkat bagian yang cedera keatas, bisa dengan tatakan bantal atau benda lainnya.

Bagaimana jika Sprain atau Strain tidak dilakukan RICE?? Nah mari lihat gambar berikut.

Gambar. Sprain atau strain tanpa penanganan berupa RICE

Bagian cedera yang tidak dilakukan RICE akan mengalami reaksi inflamasi yang berlebihan sehingga nyeri dan pembengkakan lebih hebat. Pada akhir dari proses penyembuhannya juga akan terbentuk jaringan pengganti luka yang lebih banyak. Setelah dilakukan RICE 1-3 hari, jika kondisi sudah membaik, perlu latihan ringan atau peregangan kembali pada bagian yang luka agar dapat berfungsi secara baik kembali.

Mudah kan? Kalau cedera olahraga seperti terkilir tinggal di RICE. Jangan diberi balsam atau dipijat ya karena sifatnya yang panas akan meningkatkan inflamasi dan memijat juga meningkatkan aliran darah ke bagian yang cedera, nanti bisa lebih bengkak.

___
Sumber:
Hadiansyah H. Cedera Olahraga. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2015
TBM FKUI. Modul Penanganan Cedera Olahraga. Jakarta: TBM FKUI; 2014 [2014, April 2016]. Available from: http://tbmfkui.org/wp-content/uploads/2015/08/Modul-Penanganan-Cedera-Olahraga-TBM-BEM-IKM-FKUI.pdf
Ilyas EI. Filosofi Pemulihan Cedera Olahraga. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2016
Bekerom MPJ, Struijs PAA, Blankevoort L, Welling L, van Dijk CN, Kerkhoffs GMMJ. What Is the Evidence for Rest, Ice, Compression, and Elevation Therapy in the Treatment of Ankle Sprains in Adults?. J Athl Train. 2012 Aug; 47(4): 435–443. doi: 10.4085/1062-6050-47.4.14

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *