Henti Jantung Bisa Kita Tangani!

 Ditulis oleh: Rizta Aulia Widyana

Jantung adalah organ yang sangat penting untuk manusia—kita pasti sudah paham akan hal ini. Tapi, apakah kita juga paham bahwa jantung bisa berhenti berdetak dimana saja, kapan saja, dan pada siapa saja dengan alasan yang mungkin tidak kita duga?

chain of survival

Henti jantung adalah keadaan dimana jantung berhenti berdetak dan otomatis berhenti mengedarkan darah ke seluruh tubuh dan dapat mengganggu kerja organ lain dalam tubuh kita, terutama otak.. Tidak jarang, kejadian ini berujung pada kematian karena belum semua orang mampu bertindak secara tepat pada situasi seperti ini. Pada tahun 2013, tercatat bahwa dari 359.4000 orang di Amerika Serikat yang menderita henti jantung mendadak, hanya 9.5% penderitanya yang selamat. Kecil bukan angkanya?

Padahal apabila kita mengerti cara penanganan yang tepat, angka ini bisa meningkat hingga 37%, loh!

Nah, upaya dalam penanganan henti jantung ini sering dikenal dengan istilah Chain of Survival. Digambarkan dalam alur berbentuk rantai, metode ini merupakan panduan bagi seluruh masyarakat untuk bertindak secara tepat ketika menemukan kasus henti jantung. Sampai saat ini, Chain of Survival masih menjadi alur nomor satu dalam usaha penyelamatan korban henti jantung.

Bagaimana urutan Chain of Survival?

Berdasarkan American Heart Association (AHA), Chain of Survival terbagi menjadi 5 tahap. Semua orang dapat menjalankan 3 tahap pertama dari rantai ini. Mudah dan tidak rumit, kok! Asalkan kita mengerti tata caranya.

Apa saja, sih, 3 hal itu?

  1. Pengenalan awal dan aktivasi sistem pelayanan gawat darurat terpadu (SPGDT)

Seseorang sedang berjalan sendirian lalu memegang dadanya dengan wajah kesakitan, terlihat sulit bernapas, lalu tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri? Sebaiknya langsung curiga henti jantung! Kecurigaan bisa diperkuat apabila kita tidak melihat atau merasakan napasnya.

Jika menemukan kejadian seperti ini, tanpa menunggu lagi segeralah hubungi SPGDT atau RS terdekat. Jangan lupa untuk menyampaikan : nama dan lokasi kita, kasus yang kita temui, identitas korban (jenis kelamin dan perkiraan umur), tindakan yang sudah dan akan kita lakukan, serta bantuan yang kita perlukan. Biasanya, memint ambulans datang ke lokasi kejadian secepatnya sudah merupakan permintaan yang tepat.

Jangan menunggu terlalu lama dalam menghubungun bantuan, segeralah telpon petugas kesehatan yang lebih profesional. Bisa nyawa yang menjadi taruhannya apabila kita tidak bertindak cepat.

  1. Pemberian resusitasi jantung paru (RJP) terutama untuk kompresi dada

Kemampuan melakukan RJP adalah salah satu life-skill yang sangat berguna untuk siapapun. Jika kita mengerti (dan mampu!) melakukan RJP, segeralah mulai resusitasi korban sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan AHA. Lakukan kompresi berkualitas dengan kecepatan dan kekuatan sesuai aturan. Kompresi ini harus dilakukan nonstop selama belum ada bantuan karena kita berusaha menggantikan pompaan jantung yang juga tiada henti. Artikel lebih lengkap dapat didapatkan di: http://tbmfkui.org/wp-content/uploads/2015/08/Modul-Bantuan-Hidup-Dasar-dan-Penanganan-Tersedak-TBM-BEM-IKM-FKUI.pdf

  1. Defibrilasi dengan menggunakan automated electronic defibrilator (AED)

Sebenarnya, ada suatu alat yang—bisa dibilang—cukup penyelamat karena ia dapat memberikan aliran listrik (aman, tentu saja) yang memicu jantung untuk dapat berdetak kembali. Alat ini bernama AED dan kehadirannya memang belum merata di semua tempat di Indonesia. Alat ini sudah dapat ditemukan terutama di bandara dan kantor-kantor kesehatan. Jika alat ini tersedia, ambil dan gunakan. Baca petunjuk yang ada di dalamnya dengan baik karena petunjuk tersebut sudah sangat jelas. Tempelkan plat AED sesuai lokasi pada dada pasien dan pastikan tidak ada yang menyentuh pasien sebelum kita memencet tombol ‘mulai’ pada AED. Hati-hati, selalu ada bahaya kesetrum ketika alat ini dinyalakan dan ada yang memegang pasien.

Nah, 3 hal diatas adalah hal yang sebaiknya dikuasai awam. Dengan melakukan 3 hal tersebut, kemungkinan bertahan hidup korban pasti lebih baik karena pertolongan pertama yang kita berikan telah cukup. Selanjutnya, bagaimana dengan 2 tahap terakhir?

  1. Pemberian bantuan hidup lanjutan (BHL)

Singkat cerita, ambulans yang kita hubungi datang. Korban tentu saja akan langsung dibawa ke RS terdekat dan mendapatkan penanganan darurat. Untuk kasus henti jantung ini, kita mengenal penanganannya dengan nama Bantuan Hidup Lanjut (BHL). Ini adalah kompetensi dokter, terutama dokter jantung. Bisa dibilang, pada tahap ini kita telah sepenuhnya menyerahkan korban ke pertolongan dokter.

  1. Perawatan intensif pasca henti jantung

Setelah pertolongan pertama dan penanganan yang baik, korban tentunya akan diharapkan untuk sehat kembali. Sebelum dapat melanjutkan kehidupan sehari-hari, kita harus memastikan bahwa jantungnya telah siap untuk menopang segala aktivitasnya. Jika seseorang terkena henti jantung, pekerjaan yang dulunya terasa sangat mudah, seperti misalnya berjalan kaki dan bersepeda, menjadi harus diwaspadai karena mungkin jantungnya belum sepenuhnya pulih. Oleh karena itu, seorang korban henti jantung harus menerima perawatan intensif di RS hingga ia dinyatakan siap beraktivitas kembali.

Kesimpulannya, menolong seseorang yang mendadak henti jantung bukan hal yang mustahil. Semua orang pasti bisa! Cara mudahnya, ingat saja singkatan 3C: Call, Check, Compress. Telpon bantuan, cek kesadaran, berikan kompresi jantung. Bayangkan saja betapa senangnya kita jika bisa membantu satu sama lain. Jadi, jangan takut untuk menerapkan Chain of Survival ini dalam kehidupan nyata sehari-hari!

Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua.

TBM FKUI 2016

#TOGIVETOGETHER

 

Sumber

American Heart Association. Chain of survival. [internet]. [updated, 2014 Sep 3, cited 2016 Feb 28]. Available from: http://www.heart.org/HEARTORG/CPRAndECC/WhatisCPR/EC%C2%ACCIntro/Chain-of-Survival_UCM_307516_Article.jsp#.VtSCQ5N94cg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *