Epistaksis (Mimisan), Bagaimana cara penanganan yang benar?

Ditulis Oleh: Rina Diana Nurfitri

Pernahkah anda mengalami epistaksis? Apa yang anda lakukan ketika mengalami atau melihat orang disekitar anda epistaksis? Reaksi orang terhadap mimisan berbeda-beda, ada yang merasa khawatir dan ada yang menganggap itu hal yang biasa. Dalam penanganannya pun berbeda-beda, ada yang ditengadahkan, ada yang menjepit hidung, ada yang membebat dengan daun-daunan dan lain sebagainya. Apakah hal-hal tersebut sudah benar?
Sebenarnya, apakah epistaksis itu? Apa penyebabnya? Bagaimana terjadinya dan bagaimana seharusnya hal dilakukan jika mengalami atau menemukan kejadian epistaksis? Berikut akan diuraikan mengenai epistaksis.
Apakah itu epistaksis?
Epistaksis, atau dikenal dengan mimisan merupakan suatu perdarahan yang keluar dari rongga hidung. Epistaksis banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, baik pada anak-anak maupun usia lanjut. Biasanya epistaksis terjadi pada salah satu lubang hidung.
Apakah epistaksis berbahaya?
Kebanyakan kejadian epistaksis tidak berbahaya, ringan dan dapat sembuh sendiri. Epistaksis berat, jarang terjadi tetapi jika terjadi merupakan masalah yang serius dan perlu mendapatkan pertolongan medis segera. Epistaksis dapat juga menjadi suatu tanda adanya kelainan tertentu.
Apa penyebab terjadinya epistaksis?
Perdarahan rongga hidung berasal dari pembuluh-pembuluh (pipa-pipa saluran) darah kecil yang memperdarahi bagian rongga hidung. Berdasarkan sumber perdar ahannya, epistaksis dibagi menjadi epistaksis anterior (bagian depan) dan posterior (bagian belakang). Kebanyakan epistaksis yang terjadi yaitu epistaksis anterior. Epistaksis anterior biasanya ringan berkaitan dengan kebiasaan mengorek hidung. Epistaksis anterior biasanya terjadi pada anak-anak, biasanya berulang tetapi dapat berhenti sendiri. Epistaksis yang berasal dari pembuluh darah bagian belakang biasanya terjadi pada usia lanjut.

Picture1Gambar 1. Sekumpulan saluran darah kecil di rongga hidung.4

Secara umum, penyebab epistaksis dapat dibagi menjadi dua, yaitu faktor lokal di hidung atau masalah sistemik (berkaitan dengan seluruh tubuh atau penyakit lain). Faktor lokal yang berpengaruh serta penyebab epistaksis, yaitu:

1. Cedera ringan

  • Mengorek hidung
  • Hidung yang terbentur ringan
  • Bersin
  • Mengeluarkan ingus terlalu keras

2. Cedera berat (terpukul, jatuh, atau kecelakaan lalu lintas)

3. Benda asing

4. Iritasi alergi atau bahan kimia

5. Infeksi lokal

  • Infeksi hidung atau rinitis
  • Infeksi sinus atau sinusitis
  • Infeksi lokal lainnya

6. Pengaruh udara lingkungan (udara yang terlalu dingin atau kering)

7. Kelainan pipa saluran darah lokal di hidung

  • Bawaan
  • Pipa saluran darah lebih tipis, lebih lebar dan komponen penyusunnya lebih sedikit sehingga lebih mudah robek atau bocor.

8. Obat semprot hidung (antiradang dan antialergi)

9. Tumor di rongga hidung

Biasanya dapat terjadi epistaksis berat.

Kebanyakan epistaksis terjadi spontan, tidak diketahui penyebabnya, tetapi kadang ditemukan penyebab yang jelas seperti cedera ringan atau iritasi ringan. Iritasi ringan tersebut terutama berkaitan dengan kekeringan dari permukaan rongga hidung. Udara yang kering dapat mengiritasi permukaan rongga hidung sehingga terbentuk kerak. Ketika kerak teriritasi (seperti: gesekan, korekan, udara sangat dingin dan udara kering) dapat memicu perdarahan. Risiko perdarahan akan lebih besar pada seseorang yang memiliki kelainan pipa saluran darah bawaan (saluran yang tipis dan rapuh). Oleh karena itu, epistaksis biasanya sering terjadi pada keadaan udara lebih kering dan musim dingin serta pada anak-anak yang biasanya terjadi karena cedera di daerah rongga hidung akibat mengorek-ngorek hidung terlalu dalam atau terlalu kuat.

Faktor sistemik atau penyebab epistaksis yang berkaitan dengan penyakit lain, yaitu:

  1. Kelainan pembekuan darah, contohnya pasien hemofilia (darah sukar membeku)
  2. Kelainan pembekuan darah akibat penyakit hati dan ginjal
  3. Penggunaan obat anti pembekuan darah
  4. Kelainan jantung serta alirannya, contohnya tekanan darah tinggi
  5. Infeksi yang melibatkan seluruh tubuh contohnya demam berdarah
  6. Kelainan hormon
  7. Kanker darah atau leukemia

Pada kelainan sistemik, selain epistaksis akan ditemukan gejala gejala lain yang berhubungan dengan penyakit yang diderita seperti pada pasien hemofilia. Hemofilia merupakan keadaan dimana darah sukar membeku sehingga gejala atau tanda lain yang dapat ditemukan, yaitu luka yang sukar sembuh atau perdarahan di luka yang tidak cepat berhenti. Gejala atau tanda yang terjadi bergantung kelainan atau penyakit yang mendasari timbulnya epistaksis tersebut.

Bagaimana melakukan penanganan epistaksis?

Penanganan yang dapat dilakukan, yaitu:

  1. Tenang, duduk dan hentikan perdarahan, dapat dilakukan dengan menjepit hidung menggunakan jempol dan jari dengan satu tangan pada bagian hidung yang lunak selama 10-15 menit. Selama hidung ditutup, bernapas tenang dan rileks melalui mulut (lihat gambar 2).
  2. Posisi badan agak menunduk (lihat gambar 2). Tidak disarankan menengadahkan kepala atau berbaring ketika sedang epistaksis (kecuali tenaga medis atau dokter dengan pertimbangan tertentu). Hal tersebut agar tidak terjadi masuknya darah ke saluran pernapasan. Jika darah masuk kedalam saluran pernapasan dikhawatirkan akan memberikan dampak yang serius seperti infeksi jalan napas, iritasi jalan napas atau tersumbatnya jalan napas.
  3. Pastikan waktu yang cukup dalam menghentikan perdarahan (10-15 menit), jika sudah cukup, cek apakah masih berdarah atau tidak.

Picture2Gambar 2. Penanganan epistaksis.5

Kapan mencari bantuan medis atau datang ke dokter?

  1. Perdarahan tidak berhenti setelah 20 menit
  2. Perdarahan dari rongga hidung setelah cedera kepala
  3. Cedera pada hidung
  4. Epistaksis berulang
  5. Epistaksis terjadi sering
  6. Epistaksis tidak berkaitan dengan iritasi ringan atau cedera ringan.

Bagaimana mencegah epistaksis?

Pencegahan pada epistaksis bergantung kepada kelainan yang mendasari. Jika berkaitan dengan faktor lokal seperti cedera ringan karena faktor individu (kebiasaan mengorek hidung dan lain sebagainya), lingkungan yang kering atau cuaca yang sangat dingin maka kemungkinan dapat dihindari dengan meminimalisir cedera ringan tersebut dan semprot hidung untuk melembabkan rongga hidung (disarankan konsultasi ke tenaga medis atau dokter untuk pemakain semprot hidung). Namun, jika hal yang menyebabkan epistaksis adalah penyakit lain atau kelainan sistemik seperti tekanan darah tinggi, tumor hidung tentu pencegahannya dengan mengendalikan penyebab dan perlu menangani penyebabnya tersebut.

Daftar Pustaka

  1. Mangunkusumo E, Wardani RS. Epistaksis dalam buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorokan kepala dan leher. Edisi ketujuh. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2012. hlm 131-135.
  2. Schlosser RJ. Epistaxis. N Engl J Med 2009;360:784-9.
  3. Kacker A, Zieve D, the A.D.A.M team. Nosebleed. [Halaman dalam internet] Dikutip: 26 April 2015. Diunduh dari: http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/003106.htm.[2013].
  4. Eltz DR, Zieve D, the A.D.A.M team. Nosebleed. [Halaman dalam internet] Dikutip: 26 April 2015. Diunduh dari: http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/imagepages/19677.htm. [2012]
  5. Eltz DR, Zieve D, the A.D.A.M team. Nosebleed. [Halaman dalam internet] Dikutip: 26 April 2015. Diunduh dari: http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/imagepages/8897.htm [2012]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *