Bukan “Syok” Biasa

“OMG! Syok banget denger beritanya…”

Kata “syok” yang sebenarnya diadaptasi dari Bahasa Inggris ini adalah kata yang sering digunakan untuk mengekspresikan rasa kaget. Akan tetapi, tahukah kamu bahwa kata “syok” memiliki definisi yang berbeda dalam bidang kesehatan?

“Syok” dalam bidang kesehatan bukanlah “syok” biasa

Untuk menjalankan aktivitas sehari-hari, bahkan ketika kita tidur, tubuh kita membutuhkan nutrisi dari apa yang kita makan dan oksigen dari apa yang kita hirup. Nutrisi dan oksigen ini diantar ke seluruh tubuh di dalam darah melalui pembuluh darah.

Nah, syok dalam bidang kesehatan didefinisikan sebagai kurangnya suplai darah ke seluruh tubuh yang dapat berujung pada rusaknya jaringan akibat kurangnya suplai oksigen dan nutrisi.

Kok bisa syok?

Syok mempunyai sistem klasifikasi yang didasarkan pada penyebab terjadinya, yaitu syok kardiogenik, syok hipovolemik, syok obstruktif, dan syok distributif.

Mari kita intip sedikit arti dari tiap kelompok tadi agar lebih paham mengapa kondisi tersebut bisa menyebabkan berkurangnya suplai darah ke seluruh bagian tubuh!

Syok Kardiogenik

“Kardio” berarti jantung. Syok kardiogenik berarti adalah kurang suplai darah ke seluruh tubuh karena ada gangguan pada fungsi pompa jantung sehingga jumlah darah yang dikeluarkan dari jantung tidak mencukupi kebutuhan tubuh. Oleh karena itu, jagalah jantungmu ya! Jangan sampai jantungmu sakit!

Syok Hipovolemik

“Hipo” berarti sedikit, “volemik” berarti volume. Syok hipovolemik berarti adalah kurangnya suplai darah ke seluruh tubuh karena jumlah darah yang dipompakan sedikit sehingga tidak mencukupi kebutuhan tubuh. Ini biasanya kita jumpai pada korban kecelakaan yang mengalami perdarahan masif atau dalam kasus dehidrasi berat.

Syok Obstruktif

“Obstruktif” berarti tersumbat. Sumbatan yang bisa menyebabkan syok adalah ketika terjadinya di pembuluh darah besar atau di dalam jantung itu sendiri. Ketika tersumbat, darah tentu tidak bisa mengalir. Jadi, syok obstruktif adalah kurangnya suplai darah ke seluruh tubuh karena adanya sumbatan pada pembuluh darah.

Syok Distributif

“Distributif” berarti berkaitan dengan proses penghantaran darah ke seluruh tubuh. Dalam syok distributif, pembuluh darah tempat darah dihantarkan terlalu lebar dibandingkan dalam kondisi normal.

Coba bayangkan: ada sebuah pipa dengan lebar tertentu diberi air hingga penuh. Kemudian, air tersebut dituangkan ke pipa yang lebih lebar. Dalam pipa yang lebih lebar tentu masih ada bagian yang kosong; air tidak memenuhi pipa ini.

Jika kondisi di atas terjadi dalam distribusi darah di dalam tubuh, tubuh kita tetap kekurangan suplai nutrisi dan oksigen. Kondisi ini bisa terjadi pada infeksi berat (sepsis) dan alergi (anafilaksis) dimana akan ada pelebaran pembuluh darah secara menyeluruh.

“Syok” dalam bidang kesehatan ternyata adalah “syok” yang bersifat gawat darurat…

Syok adalah salah satu kasus gawat darurat. Itulah label yang diberikan oleh Konsil Kedokteran Indonesia. Kalo sudah dilabel demikian, syok pasti adalah sesuatu yang membahayakan.

Mengapa? Seperti yang sudah disebutkan di awal, seluruh bagian tubuh kita ini harus mendapatkan asupan yang cukup. Kalo tidak, bagain tubuh yang kekurangan asupan akan mengalami penurunan fungsi. Yang paling bahaya adalah ketika yang mengalami kekurangan asupan adalah otak. Padahal otak adalah pusat kendali tubuh.

Kenali gejalanya!

Gejala syok tidak sulit kok untuk dikenali. Di antaranya adalah:

  • Kulit dingin dan membiru (pucat)

Salah satu yang dihantarkan dalam pembuluh darah adalah panas tubuh. Oleh karena itu, tubuh bisa menjadi dingin ketika syok terjadi.

Darah, jika mengalir lancar, akan “mewarnai” kulit kita. Dalam kondisi syok, darah tidak sampai ke permukaan kulit sehingga kulit membiru.

  • Capillary refill time (CRT) meningkat

CRT menggambarkan seberapa cepat pembuluh darah sampai ke ujung-ujung ekstremitas, seperti jari dan kuku. Semakin meningkat waktu yang dibutuhkan, berarti suplai darah ke jari dan kuku kita sudah melambat.

Ini diukur dengan menekan kuku pasien. Saat kuku ditekan, ia akan menjadi pucat. Nah, hitunglah seberapa lama kuku kembali menjadi pink. Jika lebih dari 2 detik, CRT dianggap meningkat.

  • Hipotensi

Pernah dengar istilah hipertensi atau tekanan darah tinggi? Hipotensi ini adalah kebalikannya. Adanya hipotensi menandakan bahwa tekanan dari darah ke dinding-dinding pembuluh darah sudah menurun. Untuk yang ini, harus diukur dengan tensimeter. Sudah punya belum tensimeter digital di rumah?

  • Volume urin berkurang drastis

Dalam latar kesehatan, di rumah sakit misalnya, ini adalah salah satu parameter yang diukur untuk mengetahui perkembangan kondisi syok pasien.

Dalam kondisi syok, tidak cukup banyak darah (cairan) yang bersirkulasi dalam pembuluh darah. Dengan demikian, cairan yang sampai ke ginjal (organ yang memproses pembentukan urin) pun sedikit. Alhasil, hanya sedikit urin yang diproduksi dan dikeluarkan dalam proses buang air kecil.

  • Penurunan kesadaran

Ini tanda-tanda bahaya nih, karena berarti suplai ke otak sudah mulai berkurang.

  • Bernapas cepat

Karena asupan oksigen berkurang, tubuh kita mengalami kelainan metabolisme. Bernapas cepat adalah salah satu cara untuk mengurangi efek dari kelainan metabolisme ini. Hati-hati, ini adalah salah satu tanda bahaya.

 

Lalu, kalau sudah kenal gejalanya, apa yang bisa kita lakukan?

Hal yang secara signifikan mengatasi syok sebenarnya harus dilakukan di rumah sakit. Akan tetapi, saat menunggu datangnya bantuan atau di dalam perjalanan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan:

  • Menelepon bantuan

Karena ini kondisi gawat darurat, kita butuh bantuan dari rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat.

  • Jaga pernapasan pasien

Pastikan jalan napas pasien lancar (tidak ada sumbatan) dan pasien masih bernapas. Jika tidak ada napas, lakukan bantuan hidup dasar. Jika ada napas, cek pernapasan secara berkala hingga bantuan datang.

  • Baringkan pasien, namun jangan menaruh bantal di bawah kepalanya

Ini dilakukan agar darah dalam kondisi yang sama tinggi (karena datar). Tanpa adanya bantal, darah ke otak juga lebih mudah dipompakan karena tidak harus melawan gravitasi.

  • Angkat kaki melebihi tinggi jantung

Langkah ini dilakukan untuk mempercepat aliran darah agar kembali ke jantung untuk dipompa lagi ke seluruh tubuh.

  • Hangatkan tubuh pasien

Hangatkanlah tubuh pasien dengan menyelimutinya. Ketika tubuhnya hangat, pembuluh darah tidak harus dilebarkan untuk menghantarkan panas. Darah yang mengalir juga bisa lebih difokuskan untuk mendarahi organ-organ yang lebih penting dibanding kulit dan ekstremitas.

  • Miringkan kepala pasien ke salah satu sisi

Kepala dimiringkan agar jika pasien muntah, muntahan tersebut tidak menutupi jalan napasnya (tersedak). Kalo curiga pasien mengalami patah tulang di daerah leher, jangan dimiringkan ya.

  • Jika pasien mengalami perdarahan, tangani perdarahannya

Perdarahan adalah salah satu penyebab syok hipovolemik. Untuk menangani perdarahan, carilah sumber perdarahannya dan kemudian ikat lokasi tersebut dengan kain bersih untuk mencegah lebih banyak darah yang keluar.

Screen Shot 2015-03-31 at 10.25.09 AM

Penanganan prarumah sakit di atas mungkin bisa dibilang sederhana. Akan tetapi, hal ini bisa menolong nyawa seseorang. Let’s live safe and save lives!

Sumber:

  1. Vincent J, Backer DD. Circulatory Shock. N Engl J Med 2013;369:1726-34. Available from: http://www.nejm.org/doi/pdf/10.1056/NEJMra1208943.
  2. Wedro, B. Shock [Internet]. Last reviewed: 2014, Aug 12 [cited: 2015, Mar 30]. Available from: http://www.emedicinehealth.com/shock/page6_em.htm.
  3. Kanaparthi LK. Distributive Shock. Updated 2013, Feb 12 [cited: 2015, Mar 30]. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/168689-overview.
  4. Heller JL, Zieve D. Shock. Updated 2015, Mar 16 [cited: 2015, Mar 30]. Available from: http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000039.htm.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *